Sekilas Mengenai Sejarah Berdirinya Masjid Agung Bangkalan

Kota Bangkalan di pulau madura mempunyai cerita menarik yang mana dahulunya Pulau madura sangat kental dengan pemerintahan yang langsung di pimpin oleh Raden Maulana Abdul Kadir, yang mana beliau ini dahulunya menjabat sebagai penguasa Kerajaan Bangkalan, terlebih Raden Maulanan ini terkenal baik dan tegas,dan juga beliau ini jauh lebih peduli dengan agenda perang dan mengutamakan keslamatan rakyat nya. 

Namun, ini tidak berarti dia melupakan peran dan tugas-tugas lain, terutama yang terkait erat dengan kesejahteraan manusia, dan upaya menyebarkan Islam di wilayah Madura Barat.

Salah satu tugasnya tentunya tidak jauh di bidang agama Islam yang mana beliau dengan semangat langsung memprakarsai agenda pembangunan dalam acara pembangunan Masjid Agung di Bangkalan, yang peran dan fungsinya sejauh ini tetap berkelanjutan di komunitas Islam khususnya di Distrik Bangkalan. 

Sekilas Mengenai Sejarah Berdirinya Masjid Agung Bangkalan

Berkat layanan hebat ini, Raden Maulana Abdul Kadir juga dikenal sebagai kepala negara, yang memiliki hak untuk menjadi Satrio Pinandito (pemimpin ulama dan Umaroh yang berwawasan luas) dan Sayyidin Panotogomo (pemimpin dan penyebar agama).

Dari sudut pandang tatanan budaya Jawa, karakter dan pola kepemimpinan yang dikembangkan Raden Maulana Abdul Kadir selama masa pemerintahannya di Kerajaan Bangkalan, seperti dikutip dari buku Sumarsaid Murtono, selalu didasarkan pada filosofi budaya Jawa dengan tulisan Indra Yama Surya Candra Bayu Kuwera Baruna Brahma  Selama masa pemerintahannya, ini adalah sosok Raden Maulana Abdul Kadir alias Pangeran Adipati Cakra Adiningrat II, yang dikenal sebagai dermawan, tegas, ramah, penuh kasih, teliti, ceria, cerdas, dan berani seperti ksatria sejati. Dia menyimpulkan bahwa dia adalah Sosok dari Raden Mas Tunggul Arief yang terkenal sangat bijaksana dan berwibawa.

Pada akhirnya, Raden Maulana Abdul Kadir, merupakan salah satu raja dari Kerajaan Bangkalan, yang sangat dikenal sebagai Trengginas ketika berada di medan perang, beliau kemudian meninggal pada hari Kamis, Legi 11 Sapar, 1775 Jawa atau identik dengan 28 Januari 1847 Masehi. Tubuhnya berada di kubah besar dimakamkan dengan seni arsitektur dan arsitektur bernuansa Eropa (Belanda) dan nuansa Islam.

Cungkup Paseran Raden Maulana Abdul Kadir, yang terletak tepat di belakang Masjid Agung, juga menampung puluhan makam kerabat dan kerabat dekatnya. Diantaranya adalah 1 buah makam Pangeran Muhammad Jusuf alias Panembahan Seno Cakra Adiningrat ke VII (1847-1862), lalu ada juga makam dari Raden Abdul Jumali Godor alias Pangeran Pakuningrat (1862-1879), makam Raden Mohammad Ismail alias Panembahan Cakra Adiningrat V (1862- 1882) dan lebih banyak kerabat. dan kerabat lainnya.

Atas inisiatif seorang pengusaha besar dari Kabupaten Bangkalan, Dr. H. Hoesein Soeropranoto, yang kemudian berkolaborasi, merehabilitasi dan memperluas dengan masjid lokal Yayasan Ta’mirul, Masjid Agung Bangkalan, warisan Raden Maulana Abdul Kadir atau Sultan Abdul Kadirun. Proses renovasi dan perluasan Masjid Agung Bangkalan akhirnya dimulai dari 28 Oktober 1990 hingga 16 April 1991 dengan batas dana lebih dari Rp 545,5 juta.

Sekarang suasana dan kondisi bangunan Masjidil Haram di seberang kompleks Alun-alun Kota Bangkalan telah menjadi lebih luas, lebih artistik, dan lebih elegan setelah memerintah pada masa pemerintahan Bupati Bangkalan, RKH Fuad Amin, Spd.

Demikianlah presentasi singkat tentang Masjid Agung Bangkalan, salah satu objek wisata religi yang membanggakan dari masa pemerintahan Bangkalan. Semoga artikel ini, yang juga disisipkan oleh latar belakang sejarah Raden Maulana Abdul Kadir alias Pangeran Adipati Cakra Adiningrat II, akan bermanfaat bagi pembaca buku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *