5 Masjid Bersejarah Di Kota Solo

Segala sesuatu di bumi adalah milik Nya, termasuk juga denagn subjek yang harus patuh ketika raja menyuruh mereka melakukan sesuatu demi kerajaan. Karena alasan ini, ketika membangun sebuah istana baru yang ada di Desa Sala, Paku Buwana II merilis perintah para abdi dalem untuk membangun Masjid Agung.

5Masjid Bersejarah Di Kota Solo

Berbeda dengan pembangunan masjid di daerah pedesaan yang lebih menekankan pada aspek gotong royong dan keterlambatan penghuni.

Baca Juga: Jasa Pasang Dan Pembuat Kubah Masjid Di Jawa Timur

Kerja sama timbal balik adalah sistem kolektif kerja komunitas yang untuk kepentingan umum, sedangkan tambat-sinambat atau perpecahan adalah sistem kerja kolektif untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Mengingat keadaan ini, tidak mengherankan bahwa pembangunan Masjidil Haram telah lambat. Diperkirakan bentuk bangunan masjid baru terlihat nyata dan dianggap siap untuk digunakan oleh kerabat istana bersama dengan penduduk setempat selama kepemimpinan Paku Buwana III.

Oleh karena itu, masyarakat tidak berwenang dan tidak mungkin untuk mengembangkan rasa memiliki seperti masjid di daerah pedesaan. Masjid kuno di negara Jawa sebenarnya terjalin dengan kepentingan penguasa lokal yang ingin berlabuh Islam di wilayah mereka, dan juga bagian dari komponen pendukung struktur kota kerajaan dengan hati Islam. 

Dalam konteks kerajaan Jawa setempat, masjid tidak diragukan lagi tidak hanya sarana ibadah, tetapi bagian dari warisannya, termasuk Masjid Agung di Surakarta, dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwana II (). 

Bahan bangunan Masjid Agung Surakarta, sebagaimana disebutkan di bagian sebelumnya, menggunakan batu bata di hampir semua bangunan utama. Demikian juga, candi bata bukan bangunan yang merupakan struktur yang membentuk ruang, melainkan tumpukan batu berbentuk.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bangunan masjid selalu menyertai ibukota kerajaan, dari periode Kota Gedhe ke periode Surakarta. Didirikan oleh Paku Buwana II, Masjid Agung adalah prasyarat utama untuk tata ruang kota kerajaan dinasti Islam Mataram yang distandarisasi oleh raja-raja pendahulunya. 

Selain itu, Masjid Agung juga digunakan sebagai simbol politik bahwa Susuhunan Paku Buwana memiliki kekuasaan di bidang agama, yang diperkuat oleh gelar “Sayidin Panatagama Kalipatullah” dan memimpin para pelayan yang tinggal di Kauman. 

Sehingga mudah dipahami, fungsi masjid bukan hanya sebagai ruang ibadah masyarakat, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis tata kota dan ekspresi hegemoni kerajaan tradisional Jawa melawan Islam.

Selain prospek ini, sejarawan Kuntowijoyo juga menduga bahwa pemilihan Sala sebagai calon ibu kota Kartasura sebagai pengganti didasarkan pada pemikiran sihir suci. Tak lama setelah penunjukan Sala sebagai lokasi istana baru, raja memobilisasi istana untuk menyimpan daerah terendam rawa. Awalnya, pembangunan istana itu dalam bentuk sederhana karena tekanan kuat untuk bergerak karena Istana Kartasura tidak lagi layak hidup.

Kedua, komponen masjid adalah persyaratan utama bagi siapa pun yang ingin menemukan kerajaan dinasti Mataram Islam yang baru. 

Ketiga, sebagai simbol konkret raja, masjid ini memiliki Islam politik yang diperkuat oleh gelar Sayidin Panatagama Kalipatullah. Keempat, bangunan Masjid Agung Kartasura bukan kayu alias permanen, sehingga konstruksi kayu masjid juga bisa dipindahkan ke Surakarta. Sifat otoritas raja menurut otoritas Jawa adalah mutlak.

Masjid Agung Surakarta yang dibangun oleh Paku Buwana II di istana barunya tidak seluas di sebelah barat Istana Hadiningrat Surakarta. Rupanya, hal terpenting dalam pikiran Sunan saat itu adalah memasang kerangka kayu masjid Kartasura.

Maklum, Paku Buwana II terus fokus beradaptasi dengan daerah sekitar desa Sala, yang dipenuhi dengan rawa-rawa, tata letak istana baru, dan administrasi pemerintahan setelah pemindahan ibukota kerajaan.

Dia menjadi tali dari unit sosial Islam di sekitarnya. Perlakuan khusus untuk raja dan keluarga bangsawan dibandingkan dengan kelompok sosial lain di ruang khusus Masjid Agung dianggap masuk akal pada saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *